BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu penghambat pembangaunan
ekonomi adalah kemiskinan. Ia merupakan tolak ukur bagi sebuah negara apakah
pembangunan yang tengah berlangsung dapat di nikmati oleh segenap warga
negaranya tanpa memandang hal-hal yang bersifat atributif. Dengan kata lain,
pembangunan yang berlangsung benar-benar merata dalam masyarakat.1
Kemiskinan bukan merupakan sesuatu yang
berdiri sendiri, sebab ia merupakan akibat dari tidak tercapainya pembangunan
ekonomi yang berlangsung. Dalam hal ini, kemiskinan akan makin bertambah
seiring tidak terjadinya pemerataan pembangunan. Pada tahun 2010 jumlah rakyat
miskin mencapai 31 juta jiwa (13,3 persen) dan menurun menjadi 30 juta jiwa
(12,5persen) pada tahun 2011. Antara tahun 2012 sampai 2013 jumlah penduduk
miskin kembali menurun sekitar 29 juta jiwa atau sekitar (11,7 persen pada
tahun 2012) dan (11,5 persen pada tahun 2013). Sedangkan pada tahun 2014
kembali mengalami penurunan sebesar 28 juta jiwa (11,0 persen). Dapat disimpulkan
bahwa sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 jumlah kemiskinan di Indonesia
semakin menurun ditandai dengan jumlah angka kemiskinan yang setiap tahunnya
menurun.2
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang
berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan
non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty
line) atau batas kemiskinan (proverty
threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh
setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori
per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian,
kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya. (BPS
dan Depsos, 2004:4).3
Kemiuskinan
pada umumnya didefenisikan dari segi ekonomi, khusunya pendapatan dalam bentuk
uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan non-material yang diterima oleh
seseorang. Namun demikian, secara luas kemiskinan juga kerap didefenisikan
sebagai kondisi yang ditandai oleh serba kekurangan: kekurangan pendidikan,
keadaan kesehatan yang buruk, dan kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh
masyarakat (SMERU dalam Suharto,2002:3)
B. Identifikasi Masalah
Mengacu pada
latar belakang masalah yang penulis kemukakan dalam penulisan makalah ini, maka
penulis merumuskan beberapa identifikasi masalah yang berkenaan latar belakang
masalah seperti berikut ini.
1.
Potret
kemiskinan ?
2.
Bagaimanakah
upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan ?
1Https://marx83.wordpress.com/2008/07/05/upaya-penanggulangan-kemiskinan/diakses-pada
Kamis 14-Mei-2015 pukul 10:45 wita.
2Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS)
diakses dari investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/kemiskinan/item301/,pada14-Mei-2015
pukul 12:41 wita.
3Edi Suharto. Membangun
Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Reflika Aditama. Bandung. 2005. hlm. 133-134.
BAB II
TINJAUAN TEORITIK
Sebatas
pengetahuan penulis, pembahasan mengenai kebijakan pemerintah dalam
mengentaskan kemiskinan sudah banyak dibahas sebelumnya baik dalam penelitian
karya ilmiah maupun dalam beberapa buku yang membahas mengenai kemiskinan.
Berdasarkan
penelusuran pada tinjauan teoritik yang penulis lakukan penulis menemukan
beberapa buku dan artikel yang hampir sama dengan judul makalah yang penulis
lakukan yaitu buku dan artikel yang berjudul.
1.
Buku karya Michael
Sherraden pada tahun 2005, mengenai Aset Untuk Orang Miskin Perspektif Baru
Usaha Pengentasan Kemiskinan. Dalam buku tersebut pembahasan lebih spesifik
pada bentuk dan komposisi Negara kesejahteraan bagi orang miskin guna
mempermudah langkah pemerintah mengentaskan kemiskinan.4
2.
Buku Karya
Soetomo pada tahun 2008, mengenai Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya yang
memfokuskan pada Masalah Sosial sebagai inspirasi perubahan (kasus kemiskinan).
Sebagaimana diketahui, kehidupan yang menjadi dambaan masyarakat adalah kondisi
yang sejahtera. Dengan demikian, kondisi yang menunjukkan adanya taraf hidup
yang rendah merupakan sasaran utama usaha perbaikan dalam rangka perwujudan
kehidupan sejahtera. Kondisi kemiskinan dengan berbagai dimensi dan
implikasinya, merupakan salah satu bentuk masalah sosial yang menggambarkan
kondisi kesejahteraan yang rendah.5
4Michael Sherraden. Aset Untuk Orang Miskin. Rajawali Press.
Jakarta. 2005. hlm.80.
5Soetomo. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008. hlm.307-308.
BAB III
HASIL PEMBAHASAN
A. Potret Kemiskinan
1.
Defenisi Kemiskinan
Kemiskinan
merupakan konsep dan fenomena berwayuh wajah,bermatra multidimensional. SMERU,
misalnya, menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki beberapa ciri (Suharto
et.al,.2004:7-8):
a.
Ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan komsumsi dasar (pangan,sandang dan papan).
b.
Ketiadaan akses
terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air
bersih dan transportasi).
c.
Ketiadaan
jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
d.
Kerentanan terhadap
goncangan yang bersifat individual maupun massal.
e.
Rendahnya
kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.
f.
Ketidakterlibatan
dalam kegiatan sosial masyarakat.
g.
Ketiadaan akses
terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
h.
Ketidakmampuan
untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
i.
Ketidakmampuan
dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan
rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).
Ellis
(1984:242-245) menyatakan bahwa dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi,
politik, dan sosial-psikologis. Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan
sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.6
6Edi Suharto. Membangun
Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Reflika Aditama. Bandung. 2005. hlm. 132-133.
2.
Faktor Penyebab Kemiskinan
Pemecahan
masalah miskin ternyata tidak dapat dilaksanakan secara sambil lalu saja.
Artinya sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi, mereka akan dengan sendirinya
mengalami perbaikan. Teori trickel down
effect ternyata tidak dapat dipertahankan lagi (Soebroto 1974:4).7
Permasalahan
masih besarnya penduduk miskin di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal yang
antara lain:
Pertama,
pemerataan pembangunan belum menyebar secara merata terutama di daerah
perdesaan. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada tahun 2006 diperkirakan
lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. Kesempatan berusaha di
daerah perdesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi
masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. Masih tingginya pengangguran terbuka
di daerah perdesaan dibandingkan dengan di daerah perkotaan menyebabkan
kurangnya sumber pendapatan bagi masyarakat miskin terutama di daerah
perdesaan. Sementara itu masyarakat miskin yang banyak menggantungkan hidupnya
pada usaha mikro masih mengalami keterbatasan dalam memperoleh akses permodalan
dan sangat rendah produktivitasnya.
Kedua,
masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti
pendidikan, kesehatan, air minum dan sanitasi, serta transportasi. Gizi buruk
masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. Hal ini disebabkan terutama oleh
cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. Bantuan
sosial kepada masyarakat miskin, pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan
(seperti penyandang cacat, lanjut usia, dan yatim-piatu), dan cakupan jaminan
sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai. Prasarana dan sarana
transportasi di daerah terisolir masih kurang mencukupi untuk mendukung
penciptaan kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat miskin.
Ketiga, harga
bahan pokok terutama beras cenderung berfluktuasi sehingga mempengaruhi daya
beli masyarakat miskin. Kondisi terakhir, di mana dunia sedang di landa dua
krisis besar yakni krisis pangan dan krisis energi, juga turut mempengaruhi
lonjakan jumlah rakyat miskin. Di pasar ASEAN harga beras dengan kualitas
patahan sebesar 25 % pada tahun 2007 adalah sebesar 330 dollar AS per ton. Pada
bulan maret kemarin sudah sampai level 500 dollar AS per ton. Harga beras
Vietnam dengan kualitas patahan 5% pecan lalu setersebut besar 550 dollar AS
per ton. Sedangkan patahan 10% mencapai 540 dollar AS per ton. Sementara di
India harga beras dengan patahan 5% menembus level 650 dollar AS per ton. Di
Argentian harga beras dengan patahn 10% sebesar 625 dollar AS per ton.
Sedangkan di Uruguay mencapai 630 dollar AS per ton. Kualitas beras medium di
pasar Asia rata-rata mengalami kenaikan sebesar 52%.8
7Mujianto Sumardi dan Hans-Dieter. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Rajawali
Press. Jakarta. hlm. 1-2.
8Https://marx83.wordpress.com/2008/07/05/upaya-penanggulangan-kemiskinan/diakses
pada Kamis 14 Mei 2015 pukul 10:45 wita.
B. Upaya Pemerintah dalam Mengentaskan Kemiskinan
Meskipun
proses pembangunan terus berlangsung, namun angka kemiskinan rakyat dunia
ketiga ternyata terus menigkat. Kija demikian, kemiskinan ekonomi berarti erat kaitannya
dengan sistem ekonomi yang ada dalam pembangunan. Guna memahami masalah ekonomi
dan konteks pembangunan.9
Mengarah
pada pembahasan sebelumnya, ada beberapa langkah yang dilakukan Pemerintah
dalam mengentaskan masalah kemiskinan di Indonesia seperti berikut.
1)
Menciptakan
lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi
pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan
terbesar di indonesia.
2)
Menghapuskan
korupsi. Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat
tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
3)
Menggalakkan
program zakat. Di indonesia, Islam adalah agama mayoritas. Dan dalam islam
ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan
di antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di
indonesia, ditengarai mencapai angka 1 triliun setiap tahunnya. Dan jika bisa
dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan
masyarakat.
4)
Menjaga
stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin
daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok
terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan
fokus ini seperti : Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton.10
9Http://apriyanis.blogspot.com/2013/04/upaya-pemerintah-untuk-mengatasi.html-diakses pada 14 mei 2015 pukul 16:03.
10Mansour Fakih. Masyarakat
Sipil Untuk Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2004. hlm.
82.
Berikut merupakan data mengenai jumlah kemiskinan di
Indonesia dari tahun 2010 sampai tahun 2014.
Berdasarkan
data diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa sejak tahun 2010 hingga tahun 2014
angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan namun, berdasarkan analisis
kebijakan yang penulis lakukan, kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam
mengentaskan kemiskinan belum terealisasi dengan baik. Terbukti dengan masih
banyaknya persoalan-persoalan yang terjadi dilingkup kehidupan masyarakat sebagai
contoh, masih belum meratanya lapangan pekerjaan baik masyarakat golongan bawah
serta penerapan harga bahan pokok disebagian besar daerah di Indonesia masih
naik-turun, dan belum terealisasinya bantuan langsung tunai kepada masyarakat
karena masih banyaknya kelalaian dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab
yang senantiasa mengorupsi bantuan untuk rakyat sehingga sebagian masyarakat
masih melarat.
DAFTAR PUSTAKA
Fakih, Mansour. Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004.
Sherraden, Michael. Aset Untuk Orang Miskin. Jakarta:
Rajawali Press, 2005.
Soetomo. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008.
Suharto, Edi. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Reflika
Aditama, 2005.
Sumardi, Mujianto dkk. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta:
Rajawali Press.
Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat
Statistik (BPS) diakses dari investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/kemiskinan/item301/,pada14-Mei-2015
pukul 12:41 wita.
Http://apriyanis.blogspot.com/2013/04/upaya-pemerintah-untuk-mengatasi.html-diakses
pada 14 mei 2015 pukul 16:03.
Https://marx83.wordpress.com/2008/07/05/upaya-penanggulangan-kemiskinan/diakses-pada
Kamis 14-Mei-2015 pukul 10:45 wita.
BalasHapusThank infonya. Oiya ngomongin kemiskinan, ternyata ada loh sejumlah miliarder di dunia ini yang kerap menghambur-hamburkan uang dan berujung pada kebangkrutan. Siapa saja mereka? Cek di sini ya: Miris, 5 miliarder ini akhirnya jatuh miskin