Untuk malam ini jiwa
dan raga belum dapat bersekutu sehingga hati harus bersabar dan bersabar
menantikan hujan deras yang akan memadamkan bara kerinduan dalam hati,
Airmata kembali menyapaku, ketika pena mulai menuliskan
sajak tentang rindu akan hadirmu,
Seketika aku ingin
meredupkan cahaya mentari yang menyinari ruangmu, agar kau dapat mengerti
perasaanku dikala kau meninggalkanku,
Sakit adalah
pelanggang setia yang mampu menemani dikala hati muak akan kerinduan ini,
Senyumummu begitu
memesona dari langit ketuju, kau pancarkan sinar yang disebut cinta,
Jika hadirmu pun
sesaat, biarkan aku melukis senyum kebahagiaan dipipimu walaupun itu sesaat,
Kupeluk sunyi dalam
keramaian, segaris lirik pada lagu, hanya mampu terpaku diujung sudut menanti
rindu yang tak tertahankan,
Hatipun tak mampu
menerka untuk cinta yang baru,
Setia itu penantian,
hati yang terlanjur luka tak mampu terobati, aku dan kamu berlalu bagai angin,
lalu kita menjadi sekian,
Tuhan pisahkanlah ruh
dari jasad ini, agar tak terlihat tetesan air mata kesedihan, aku muak
melihatnya bangga akan dirinya, yang kemudian tak mampu mengenal-Mu
Bumipun turut
menangis ketika penantian ini disia-siakan,
Bantu aku membenci
waktu, karena disaat bersamaan aku teringat olehn-Ya dan melupakan-Mu.
Jika hati yang
kumiliki tak setegar karang, mungkin kesetiaan, penantian, bahkan rasa sayang
yang aku miliki akan pupus,
Sajak kerinduan terus
berlalu, namun penantian ini tak akan bisa tergoyahkan sampai aku betul-betul
sadar, setelah tetesan air mata kering dengan sendirinya dan disaat jasadku
terbujur kaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar