Sabtu, 05 Desember 2015

‘’KESETIAAN DALAM PENANTIAN (FIKSI)’’


Untuk malam ini jiwa dan raga belum dapat bersekutu sehingga hati harus bersabar dan bersabar menantikan hujan deras yang akan memadamkan bara kerinduan dalam hati,
Airmata kembali menyapaku, ketika pena mulai menuliskan sajak tentang rindu akan hadirmu,
Seketika aku ingin meredupkan cahaya mentari yang menyinari ruangmu, agar kau dapat mengerti perasaanku dikala kau meninggalkanku,
Sakit adalah pelanggang setia yang mampu menemani dikala hati muak akan kerinduan ini,
Senyumummu begitu memesona dari langit ketuju, kau pancarkan sinar yang disebut cinta,
Jika hadirmu pun sesaat, biarkan aku melukis senyum kebahagiaan dipipimu walaupun itu sesaat,
Kupeluk sunyi dalam keramaian, segaris lirik pada lagu, hanya mampu terpaku diujung sudut menanti rindu yang tak tertahankan,
Hatipun tak mampu menerka untuk cinta yang baru,
Setia itu penantian, hati yang terlanjur luka tak mampu terobati, aku dan kamu berlalu bagai angin, lalu kita menjadi sekian,
Tuhan pisahkanlah ruh dari jasad ini, agar tak terlihat tetesan air mata kesedihan, aku muak melihatnya bangga akan dirinya, yang kemudian tak mampu mengenal-Mu
Bumipun turut menangis ketika penantian ini disia-siakan,
Bantu aku membenci waktu, karena disaat bersamaan aku teringat olehn-Ya dan melupakan-Mu.
Jika hati yang kumiliki tak setegar karang, mungkin kesetiaan, penantian, bahkan rasa sayang yang aku miliki akan pupus,
Sajak kerinduan terus berlalu, namun penantian ini tak akan bisa tergoyahkan sampai aku betul-betul sadar, setelah tetesan air mata kering dengan sendirinya dan disaat jasadku terbujur kaku.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar