Dingin yang
merapuhkan tulang terdalam, mengingatkanku suka duka yang telah kita lewati
berdua, hembusan angina seakan menghempas kenangan masa lalu. Waktu begitu
cepatnya berlalu, semakin mekar mawar ditaman, semakin pula senyummu merekah,
namun dikala api telah padam lalu kau menghilang tak tahu arah, kemanakah hati
ini melangkah agar aku dapat menerka cinta yang baru.
Andai aku bias
memutar waktu, akan kunikmati detik demi detik untuk melukis senyum kebahagiaan
dipipimu. Saat jemari telah mongering hanya mampu ku bercakap dalam hati agar
batin dapat merasuk sukmamu lalu membisikkan sungguh aku sangat menyayangimu.
Jarak yang begitu
dekat seakan menjauhkan kedua hati, jalan yang berliku telah aku jajaki namun
tak setitikpun arahmu dijumpai oleh mata, mungkingkah kau terus berjalan
sehingga tak ada niatmu untuk mengajakku bersamamu? Saat kutuliskan pena diatas
kertas, saat itu pula tetesan air mata berlinangan lalu membasahi kertas itu
kemudian menghapus tulisan kesedihan didalamnya, namun hati tak mampu menutupi
akan kesakitan ini.
Akankaah kau kembali
saat bibir tak mampu berucap, mata tak mampu melihat kebahagiaan baru dihidupmu
karena jasadku telah terbujur kaku tak mampu bergurau, hanya satu pintaku
balutlah tubuh kaku ini dengan kain kafan, kecup keningku untuk yang pertama
dan terakhir kalinya meski aku tak merasakannya, jangan tangisi aku, tapi
tangisilah kebodohan masa lalu agar hari esok kau tak melakukan kebodohan yang
lebih banyak disisa usiamu yang semakin senja, ikhlaskanlah kepergainku dengan
senyuman. Jangan terlarut dalam duka, aku yakin suatu saat nanti kita akan
dipertemukan di syurga yang begitu indah setelah kau menyusulku di akhirat…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar