Sabtu, 05 Desember 2015

‘’MEET UNTIL ENDING (fiksi)’’


Dingin yang merapuhkan tulang terdalam, mengingatkanku suka duka yang telah kita lewati berdua, hembusan angina seakan menghempas kenangan masa lalu. Waktu begitu cepatnya berlalu, semakin mekar mawar ditaman, semakin pula senyummu merekah, namun dikala api telah padam lalu kau menghilang tak tahu arah, kemanakah hati ini melangkah agar aku dapat menerka cinta yang baru.
Andai aku bias memutar waktu, akan kunikmati detik demi detik untuk melukis senyum kebahagiaan dipipimu. Saat jemari telah mongering hanya mampu ku bercakap dalam hati agar batin dapat merasuk sukmamu lalu membisikkan sungguh aku sangat menyayangimu.
Jarak yang begitu dekat seakan menjauhkan kedua hati, jalan yang berliku telah aku jajaki namun tak setitikpun arahmu dijumpai oleh mata, mungkingkah kau terus berjalan sehingga tak ada niatmu untuk mengajakku bersamamu? Saat kutuliskan pena diatas kertas, saat itu pula tetesan air mata berlinangan lalu membasahi kertas itu kemudian menghapus tulisan kesedihan didalamnya, namun hati tak mampu menutupi akan kesakitan ini.

Akankaah kau kembali saat bibir tak mampu berucap, mata tak mampu melihat kebahagiaan baru dihidupmu karena jasadku telah terbujur kaku tak mampu bergurau, hanya satu pintaku balutlah tubuh kaku ini dengan kain kafan, kecup keningku untuk yang pertama dan terakhir kalinya meski aku tak merasakannya, jangan tangisi aku, tapi tangisilah kebodohan masa lalu agar hari esok kau tak melakukan kebodohan yang lebih banyak disisa usiamu yang semakin senja, ikhlaskanlah kepergainku dengan senyuman. Jangan terlarut dalam duka, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan di syurga yang begitu indah setelah kau menyusulku di akhirat…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar